Kamis, 18 Agustus 2016




Elsyifa Irma S_PLB_2016


SISTEM PENDIDIKAN YANG MENGHASILKAN MANUSIA ROBOT


Berbicara tentang pendidikan di Indonesia memang bukan hanya berbicara soal kualitas nilai, tetapi juga kualitas dari hasil sistem pendidikan itu sendiri. Di Indonesia peserta didik atau seorang pelajar dituntut memiliki karakter agar dapat meningkatkan kualitas sikap pelajar di masa yang akan datang, karakter tersebut anatara lain sebagai berikut : Religius yaitu sikap patuh dalam melaksanakan ajaran agama, toleran dan rukun terhadap pemeluk agama lain. Jujur yaitu sikap yang dapat dipercaya dalam perkataan dan tindakan. Toleransi yaitu sikap menghargai dalam hal apapun seperti agama, suku, pendapat, dan lain-lain. Disiplin yaitu sikap patuh dan tertib pada peraturan atau ketentuan tertentu. Kerja keras yaitu sikap sungguh-sungguh dalam mengatasi hal apapun, contohnya menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Mandiri yaitu sikap dan prilaku yang tidak tergantung atau mengandalkan orang lain. Cinta tanah air yaitu sikap yang menunjukkan kesetiaan dan kepedulian terhadap bangsa. Kreatif yaitu sikap berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Namun ternyata hal diatas kebanyakan hanyalah teori semata dan pada umumnya hanya sedikit untuk praktek nya . Contohnya saja seperti yang kita ketahui para pelajar di tuntut untuk memiliki sikap kreatif, dan dasar dari sikap kreatif adalah rasa penasaran dan berani mengambil resiko. namun saat pembelajaran didalam kelas para siswa/i jarang sekali untuk memiliki rasa penasaran yang disebabkan pembelajaran hanyalah sebatas hafalan yang siswa/i nya dijejali banyak pelajaran yang mengakibatkan tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tetapi tidak menguasai apaun dan guru adalah dewa yang serba tahu yang lebih parahnya lagi siswa/i tidak berani mengambil resiko karena takut salah atau takut dimahari yang menyebabkan siswa/i menjadi sosok yang psimis dan kurang percaya diri jika sudah begitu siswa/i pun sampai ada yang berani berbuat tidak jujur seperti menyontek, membeli kunci jawaban, bahkan ada pula yang menjoki tugas demi nilai semata atau bahkan karna takut dimarahi jika tugasnya salah. Logikanya jika siswa/i sudah tidak ada rasa penasaran, hanya mengicar sebuah nilai dari seorang guru, dan kurang percaya diri karna takut salah, bagaimana siswa/i menjadi seseorang yang kreatif. Maka dari itu sebaiknya sistem pemebalajaran yang bersifat hafalan lebih dikembangkan lagi menjadi sistem pembelajaran yang inovasi dan dikemas sedemikian rupa oleh para guru agar pembelajaran tersebut tidak monoton hanya menghafal, tetapi juga membuat siswa/i nya penasaran dengan pembelajarannya. Selain itu setiap guru harus menghargai proses yang dikerjakan siswa/i agar para siswa/i dapat menemukan bakatnya dan tanamkan di diri siwa/i untuk bertanya. Mudah – mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki pemuda yang kreatif, inovatif, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang hebat di mata dunia.