Elsyifa Irma S_PLB_2016
SISTEM PENDIDIKAN YANG MENGHASILKAN MANUSIA ROBOT
Berbicara
tentang pendidikan di Indonesia memang bukan hanya berbicara soal kualitas
nilai, tetapi juga kualitas dari hasil sistem pendidikan itu sendiri. Di
Indonesia peserta didik atau seorang pelajar dituntut memiliki karakter agar
dapat meningkatkan kualitas sikap pelajar di masa yang akan datang, karakter
tersebut anatara lain sebagai berikut : Religius yaitu sikap patuh dalam
melaksanakan ajaran agama, toleran dan rukun terhadap pemeluk agama lain. Jujur
yaitu sikap yang dapat dipercaya dalam perkataan dan tindakan. Toleransi yaitu
sikap menghargai dalam hal apapun seperti agama, suku, pendapat, dan lain-lain.
Disiplin yaitu sikap patuh dan tertib pada peraturan atau ketentuan tertentu. Kerja
keras yaitu sikap sungguh-sungguh dalam mengatasi hal apapun, contohnya
menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Mandiri yaitu sikap dan prilaku yang
tidak tergantung atau mengandalkan orang lain. Cinta tanah air yaitu sikap yang
menunjukkan kesetiaan dan kepedulian terhadap bangsa. Kreatif yaitu sikap
berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan hasil baru dari sesuatu yang
telah dimiliki. Namun ternyata hal diatas kebanyakan hanyalah teori semata dan
pada umumnya hanya sedikit untuk praktek nya . Contohnya saja seperti yang kita ketahui para pelajar di tuntut
untuk memiliki sikap kreatif, dan dasar dari sikap kreatif adalah rasa penasaran
dan berani mengambil resiko. namun saat pembelajaran didalam kelas para siswa/i jarang sekali untuk
memiliki rasa penasaran yang disebabkan pembelajaran hanyalah sebatas hafalan
yang siswa/i nya dijejali banyak pelajaran yang mengakibatkan tahu
sedikit-sedikit tentang banyak hal tetapi tidak menguasai apaun dan guru adalah
dewa yang serba tahu yang lebih parahnya lagi siswa/i tidak berani mengambil
resiko karena takut salah atau takut dimahari yang menyebabkan siswa/i menjadi
sosok yang psimis dan kurang percaya diri jika sudah begitu siswa/i pun sampai
ada yang berani berbuat tidak jujur seperti menyontek, membeli kunci jawaban,
bahkan ada pula yang menjoki tugas demi nilai semata atau bahkan karna takut
dimarahi jika tugasnya salah. Logikanya jika siswa/i sudah tidak ada rasa
penasaran, hanya mengicar sebuah nilai dari seorang guru, dan kurang percaya
diri karna takut salah, bagaimana siswa/i menjadi seseorang yang kreatif. Maka
dari itu sebaiknya sistem pemebalajaran yang bersifat hafalan lebih
dikembangkan lagi menjadi sistem pembelajaran yang inovasi dan dikemas
sedemikian rupa oleh para guru agar pembelajaran tersebut tidak monoton hanya
menghafal, tetapi juga membuat siswa/i nya penasaran dengan pembelajarannya.
Selain itu setiap guru harus menghargai proses yang dikerjakan siswa/i agar
para siswa/i dapat menemukan bakatnya dan tanamkan di diri siwa/i untuk
bertanya. Mudah – mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki pemuda yang
kreatif, inovatif, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang hebat di mata
dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar